Love is Pain
Matahari perlahan mulai menyinari bumi, tanda pagi hari
telah tiba menyapa para penduduk bumi, burung berkicau menyambut datanganya
pagi hari, seperti halnya Fara yang saat ini tengah disibukkan dengan pikirannya yang penuh kekaguman akan
cerahnya cuaca hari senin pagi ini, tidak seperti anak remaja lainnya yang
selalu setia membenci hari senin, Fara justru selau menyukai hari senin, namun
saat ditanya mengapa ia menyukai hari senin hanya jawaban seperti “entah”,
“tidak tahu” atau bahkan “aku hanya suka saja”
yang selalu ia katakan, aneh bukan.
Fara POV
“Hmmm.. udara pagi hari memang sangatlah segar, senin memang
selau menjadi hari terbaik.”
Hai namaku Adelia Faranisa Aznii, aku biasa di panggil Fara
usiaku 17 tahun, aku anak kedua dari dua bersaudara, kakak Laki – laki ku yang
bernama Dafa Rafif Arkan sekarang sudah menjadi Mahasiswa Semestar empat di Universitas
Brawijaya ia hidup mandiri disana, sedangkan aku sendiri adalah seorang siswi
SMA Bhakti Bangsa salah satu sekolah terbaik di Surabaya. Keluargaku bukanlah
keluarga kaya, biaya sekolahku saat ini saja kudapatkan dari Beasiswa, tapi aku
masih bersyukur karena aku tidak harus ikut banting tulang bekerja setiap hari
untuk mencukupi kebutuhan hidup, pekerjaan ayah dan ibuku masih cukup untuk
menghidupi aku dan kakakku.
“Fara Cepatlah keluar waktunya sarapan....” itu suara ibuku, ibu yang selalu menyayangi anaknya
tanpa pilih kasih.
“ iya bu, sebentar lagi..” aku segera mengambil tas
sekolahku dan menghadap kaca untuk merapikan seragamku.
“ Selamat pagi semua....” sapaku sambil memasuki ruang makan
sekaligus dapur di rumahku
“ Pagi juga sayang, cepatlah duduk jangan sampai kamu telat
masuk sekolah.” Itu ayahku, ayah yang selalu memberikan nasihat yang membangun
untuk anak – anaknya.
“ Fara, apakah kamu bisa bantu ibu di kebun sepulang sekolah
nanti ?, ayahmu banyak pesanan hari ini.” Tanya ibuku sembari menikmati
hidangan yang tersaji meja makan.
“ Tentu saja bu, aku rasa kelas musikku libur hari ini.”
Sudah pasti aku menyetujui permintaan ibuku, karena berkebun merupakan satu –
satunya hiburan yang bisa kulakukan.
Setelah itu kami kembali makan dengan tenang menikmati
hidangan yang terasa sangat nikmat walaupun sangat sederhana.
“tok...tok...tok.... Fara...!!!”
“ Ayah Ibu aku rasa Kevin sudah datang menjemput, aku
berangkat dulu” Pamitku sambil berdiri meletakkan piring kotor pada tempat cuci
piring.
“iya, hati – hati dijalan, ini ibu buatkan bekal untukmu
makanlah dengan kevin nanti.” Setelah menerima kotak bekal yang diberi ibu dan
mencium tangan kedua orang tuaku, aku segera berjalan menuju pintu dan
mengenakan sepatu.
Ketika aku membuka pintu, Kevin sudah menungguku dengan
seragam yang sama seperti yang aku gunakan yang membedakan tentu saja dia
menggunakan Celana sedangkan aku menggunakan rok.
“kau sudah siap ke sekolah ?” ia bertanya kepadaku ketika
aku menghampirinya.
“tentu saja aku siap, memangnya kapan aku belum siap ketika
kau datang ?” ucapku sambil memutar kedua bola mataku.
“baiklah – baiklah ayo naik..” ucapnya sambil mengusap
rambutku
Aku segera menaiki sepedanya, kami memang selalu seperti ini
berangkat sekolah dengan berboncengan menaiki sepeda.Jangan pernah berfikir
kalau Kevin itu kekasihku, karena pada nyatanya dia hanyalah sahabatku sejak
kecil, menurutku dia adalah sahabat yang selau ada ketika aku sedih maupun
senang.
Meskipun Kevin salah
satu anak terkaya di Sekolah, tapi ia tidak pernah sombong dan memilih selalu
hidup sederhana seperti sekarang ini, selain itu Kevin juga anak terpopuler
disekolah, karena ketampanan dan
Prestasinya di kelas musik, dimana dia menjabat sebagai seorang Ketua.
Kalau kalian bertanya apakah aku menyukainya, maka aku akan
menjawab iya aku menyukainya, bukan hanya suka sebagai sahabat melainkan suka
sebagaimana layaknya seorang perempuan kepada pria. Aku tidak pernah berani
menyatakan perasaanku, karena aku tau
Kevin menyukai wanita lain yang jauh lebih sempurna dibandingkan diriku.
To be Continue......
Thanks For Read tunggu kelanjutannya ya.
No comments:
Post a Comment